Selasa, 12 Desember 2017

Tantangan Level 2 : Kemandirian Anak (Day 2)

Assalamualaikum

Hari berikutnya tanggal 1 desember di saat momen sarapan pagi alhamdulillah saya masih bertekad kuat untuk melatih Jiddan makan sendiri.

pertama saya ajak dia untuk duduk anteng di playmate nya duduk berhadapan dengan saya, saya kasih air putih dalam cangkir dan alhamdulillah dia mau minum sendiri. lalu nasi dan lauk saya berikan ke Jiddan sambil bilang " Ayok adek maem sendiri ya". seperti yang saya ceritakan di gambar, Jiddan belum mau tertarik menggunakan sendok. dia memilih menyomot nasi langsung dengan tangan. Namun baru beberapa kali comot dia langsung berdiri, minta pangku sebagai kode minta disuapin. Belum cukup sampai di situ, dia berdiri dan lari ke depan rumah, akhirnya disuapin sambil jalan-jalan. Hosh.. perjuangan baru sampai sini ternyata sangat menantang.nnnnnnnhhhhhh

Tantangan Level 2 Kemandirian Anak : Day 1

Assalamualaikum

Sampai juga saya di tantangan level kedua yaitu tentang melatih kemandirian anak.
Saya memiliki 1 orang anak berusia 16 bulan. Menurut usia nya dia sudah bukan bayi lagi. Kemandirian yang bisa dilatihkan untuknya sudah berkembang seperti mengenalkan makan sendiri, buang air sendiri, mengembalikan mainan sendiri dan berlatih komunikasi untuk menyampaikan keinginannya.

Untuk minggu pertama ini saya mencoba mengenalkan nya untuk makan sendiri. Sebetulnya dia sudah sering saya latih untuk makan sendiri sebelumnya. Namun belum cukup konsisten dan karena ga habis banyak akhirnya pun tetap saya bantu suapin. Apalagi kalau sama uti nya pasti saat makan harus digendong jarik sambil disuapin sambil jalan-jalan. Untuk hal satu ini saya belum berhasil mengkomunikasikannya secara efektif ke mertua karena beberapa kali menyampaikan untuk tidak perlu digendong, ternyata mertua masih sangat kolot dengan aturan tersebut.

Ini saya share melatih makan sendiri di hari pertama ini. Yaitu momen saat sarapan tgl 30/11. Qadarullah jiddan hari ini lagi susaaah banget makan nya. 

Rabu, 22 November 2017

Aliran Rasa Tantangan Bunsay Level 1

Sampai juga bunsay di minggu aliran rasa.. Tantangan level 1 sudah selesai dan saya ngisinya dengan loncat2. Memang konsistensi sangat dibutuhkan dalam menjawab tantangan ini.

Yang paling menantang bagi saya dalam menjawab tantangan 10 hari ini..

🌼Pertama adalah konsistensi untuk menulisnya setiap hari. Sebetulnya untuk mempraktekkannya setiap hari saya bisa, namun waktu akan menuliskannya dalam blog itu yang selalu saja ada halangan. Mungkin karena sambil membersamai anak balita yg sedang aktif-aktifnya dan sedang lagi minta diperhatikan terus ini kadang jadwal yang sudah rapih disusun jadi berantakan ketika anak rewel, jam tidur berubah, atau anak sudah tidur tapi saya terlanjur kecapekan.

🌸Kedua adalah menjaga emosi. Saya sadari memilki tempramen yang cukup galak. Kurang bisa mengendalikan emosi dan cenderung ceplas ceplos. Apalagi kalau sedang diburu waktu atau sedang merasa terganggu saat mengerjakan sesuatu hal yang penting.

🌸ketiga kondisi fisik. Di hari ketiga tantangan saya mengalami penurunan kondisi fisik karena dismenorhea dan juga sedikit cidera di tulang belikat. Ketika kondisi fisik tidak mendukung otomatis praktek komprod juga terganggu.

Dan sebetulnya nasih banyak tantangan-tantangan lain dalam menjalankan game level 1 ini. Selama 10 hari mengerjakan tantangan komprod dengan suami  sebenarnya saya sadar bahwa konunikasi produktif ini harus betul-betul dijalankan setiap hari, setiap waktu. Saya selama terlalu banyak menggunakan ego pribadi. Pola komunikasi kami berdua harus dibenahi dari masing2 di antara kami.

Ini pun juga baru tantangan kecil.. Sangaat kecil untuk menjadi seorang ibu profesional yang saya inginkan. Seorang bunda dalam bunda sayang.. Yang disayangi dan menjadi kebanggaan suami dan anak2nya.

Saya yakin Allah menuntun saya sampai bertemu IIP dan masuk dalam kelas bunda sayang ini pasti ada tujuan luar biasa. Allah mau menata saya yang suka egois dan emosi ini..Allah ingin agar saya berubah. Dimulai dari tantangan level 1 ini.. ujian pertama tentang komunikasi baru dimulai dan tidak akan pernah berakhir selama saya masih menjadi seorang istri dari suami saya saat ini.

Terima kasih Ya Allah. Terima kasih IIP.

Selasa, 14 November 2017

Tantangan Bunsay Level 1 : hari kesepuluh tantangan hapus TV

Bismillah..

Publish tantangan hari terakhir di injury time.. 😇😇

Ini tentang cara komprod saya ke si ayah untuk mengatasi masalah kecanduan televisi oleh anak kami.

Anak kami memang masih berusia 16 bulan. Dulu memang saya sebetulnya agak kurang setuju untuk membeli televisi di rumah. Namun si ayah kekeuh dengan alasan bakal sepi kalau tidak ada tv di rumah. Apalagi kalau lg capek pulang kerja untuk sekedar menonton berita atau film.

Anak kami tipe anak visual. Sangat terlihat ketika diberi buku bergambar atau televisi dia bisa duduk anteng lebih dari 30 menit. Bahkan saat menonton tv dia bisa "melongo" tidak bergerak. Itulah yang menjadi kekhawatiran kami sebagai orang tua. Awal mula nya saya yang merasa gemes saat menyuapi makan si kecil ga mau diem saya setelin tv dia jadi mau duduk anteng dan makan sampai selesai. Akhirnya kecanduan, tiap mau makan pasti minta disetelin tv. Tayangan tv nya pun harus kartun kesukaanya yaitu Diva. Memang kartun yang ceritanya sarat muatan islami tapi kalau kecanduan media televisi, untuk anak di usia dia yang masih belum genap 2 tahun tentu bukan hal bagus.

Saya lalu mengutarakan hal ini ke si ayah saat momen pagi2 sebelum sarapan. Si ayah ternyata juga sama sama khawatir. Karena setiap menonton televisi si anak bisa sampe melongo..ketika tv dimatikan dia marah dan menangis. Jika di tempat nenek saat menonton kartun di stasiun televisi pun dia juga marah saat sedang iklan. Kita sepakat untuk menyetop televisi dan lebih banyak memberikannya mainan, mengajak nya jalan2 di sekitar komplek dan melihat gambar di buku2 hardbook.

Saat pagi2 biasanya saya sibuk memasak dan si kecil kemarin2 anteng didepan tv. Beda dengan skarang. Tv tidak kita nyalakan dan si kecil kita alihkan perhatian nya ke hal lain. Memang awalnya si kecil marah dan menangis. Tapi lama-lama dia bisa lupa sama sekali dengan tv. Dan subhanallah dalam waktu 5 hari si kecik sudah betul2 lupa dengam tv saat di rumah. Padahal kita sudah membayangkan bakal ada drama dan tantrum tiap paginya.

Kuncinya adalah komunikasi antara saya dan si ayah untuk saling bekerja sama mengalihkan perhatian anak dr tv dan tidak boleh ada dari kami yang melakukan cheating atau melanggar aturan meski cuma sekali. Ya meskipun saat di rumah nenek dia masih menonton tv saat si kakak menonton. Tapi lebih sering bisa teralihkan dengan bermain atau melihat ayam, ikan, atau burung yang cukup banyak dipelihara di rumah nenek. Dia juga tidak tertarik dengan tv karena tv di rumah nenek lebih sering menayangkan acara berita kesukaan kakek.

"Menjadi orang tua itu tidak ada sekolahnya. Menjadi orang tua itu belajar seumur hidup".

-mamajiddan

Tantangan Bunsay Level 1 : Hari Kesembilan

Bismillah..

Kata pak cahyadi takariawan saat saya ikut di workshop nya waktu wisuda matrikulasi IIP kemarin.. Ada banyak tipe komunikasi antar pasangan.. Beliau menyebutnya dengan "Bahasa Cinta".

Ada lima bahasa cinta dalam hubungan suani istri : yaitu kata-kata apresiasi, pelayanan, waktu berkesan, hadiah, serta sentuhan fisik.

Bahasa cinta masing-masing individu pasti berbeda. Antar suami dan istri pun pasti berbeda. Perbedaan inilah yg kalau tidak dikomunikasikan dengan baik akan menimbulkan kesalahpahaman antar keduanya. Bisa jadi selama ini suami mengungkapkan cinta nya dengan caranya sendiri yang ternyata si istri mengharapkan ungkapan cinta dengan cara yang lainnya. Untuk itu antar suami dan istri harus saling terbuka tentang ungkapan cinta seperti apa yang diharapkan dari pasangan masing2.

Saya memang bukan tipe orang yang sangat mengharapkan suami rajin memberikan hadiah atau kata2 indah. Saya lebih menyukai kalau suami memiliki waktu yang banyak untuk bersama entah di rumah dalam kondisi santai maupun dalam menjalani pekerjaan.

Nah.. Kalau sekali2 suami memberi hadiah atau membelikan hadiah yaa seneng dooong. Apalagi lagi momen spesial setahun sekali gini sebenernya ya agak ngarep. Hihi jadi ceritanya saya tanggal 15 kemarin berkurang jatah umurnya..alias ulang tahun. Nah.. memang sejak kami menikah masing2 dari kami rutin memberikan hadiah di momen pertambahan umur. Entah hanya belikan makanan atau pakaian. Pernah sesekali suami saya saking bingungnya lalu ga ngasih surprise apa2 dan memilih mengajak saya ke toko untuk beli sendiri..kok rasanya kurang berkesan banget gitu.. Makanya mungkin belajar dari pengalaman waktu itu, beliau memberi saya hadiah spesial di tahun ini.

Dari momen ini malah bisa dikatakan suami saya ya yang praktek komprod dengan pasangan. Hehe. Sebetulnya di momen pemberian hadiah ini saya juga bisa sekaligus mengulik2 tentang beliau.. Kok tahu kalau saya lagi pengen tas? Trus bagaimana cara bliau belanja? Mendadak atau udah direncanakan? Jawabannya coba tebak.. "Ya tahu aja dong..tadi ayah langsung ke toko..muter etalase sekali. Tunjuk langsung beli deh.. " 😪😪😪.

Memang betul.. Kata ust. Aisah Dahlan dalam materinya tentang perbedaan laki-laki dan perempuan yang dishare di kuliah bunsay kemarin, laki2 itu paling tidak suka dengan belanja. Kebalikannya dengan wanita yang merasa sangat bahagia saat belanja.

Tentang materi ust. aisah Dahlan ini setelah saya membacanya ada banyak hal yang tidak sesuai dengan kepribadian suami saya. Mungkin memang materinya merupakan hasil survei mayoritas pria seperti itu. Berbeda dengan suami saya yang ternyata spesial 💓💓.

Suami saya aspek komunikasinya sangat dominan. Kalau ada masalah tidak suka diam tapi suka menceritakannya. Namun kalau dari segi pola perasaan dan pola pikir tetap seperti pria2 lain yang cenderung praktis dan masih bisa fokus dalam pekerjaannya meskipun emosi nya sedang negatif.

Di bawah nanti saya share materi Ust Aisah Dahlan.

sumber :

Materi Talkshow "Membangun Persahabatan Suami dan Istri". Cahyadi Takariawan. 2017.

Materi Kuliah Bunda Sayang. Kajian Ilmiah Perbedaan Otak laki-Laki dan Perempuan. Dr. Aisyah Dahlan. Rumil Al-Hilya Rumah Ilmu.

Tantangan Bunsay Level 1 : Hari Kedelapan Quality Time

Bismillah..

Tantangan hari kedelapan ini saya mau cerita tentang hari Minggu yang lalu.

Jadi.. Kata pepatah "in family relationship, love is spelled with T.I.M.E".

Betul sekali.. Setelah sekian hari si ayah berada di luar kota.. Sibuk ini itu.. D rumah pun sibuk telemarketing.. Hari minggu si ayah dengan inisiatifnya mengajak saya dan si kecil jalan2. Sederhana, kami hanya mencari sarapan bubur ayam bersama dan ngajak si kecil muter alun2.

Cukup 2 jam karena kami juga harus membuka toko karena banyak pelanggan yang datang kalau weekend seperti ini.

2 jam kami maksimalkan..si ayah tidak nampak lagi sibuk bertelepon urusan pekerjaan. Kami ngobrol santai mengomentari apa saja yang kami lihat dan menemani si kecil bermain mobil2an di alun2 sleman.

Hari senin si ayah juga mengambil cuti dan membantu saya untuk mengurus toko di rumah.

Rasanya setelah 2 hari quality time ini beban seminggu kemarin hilang dan kami merasa makin hangat.

Wassalamualaikum..

💕💕💕💕💕💕💕💕

Senin, 13 November 2017

Tantangan Bunsay Level 1 : Hari Ketujuh

Bismillah..

Setelah beberapa hari off ga nulis karena setelah si ayah sampe jogja jadi banyak banget acaranya. Yang jenguk dedek bayi sodara, akikahan, nikahan tetangga.. Belum lagi musim hujan begini rame kucing2 pada sakit.. Alhamdulillah toko juga lagi rame orderan offline dan online. Jadi musti kerja lebih keras di ranah publik demi tuntutan profesi.. Alhasil jam online dan nulis blog pun jadi keteteran.. Jadwal harian yg udah syantik dibikin dari jaman matrikulasi dulu jadi amburaduull.  😭😭. Tulisan ini pun ngendon di draft berkali2. Sempet nulis pas si kecil lg tidur. Ndelalah pegawai yg jaga toko hr ini ijin. Jadi riweuh sekaliii..

Ini sebetulnya udah kelewat dari hari ke 10 tantangan.. Tapi saya tetep memenuhi tanggungjawab untuk menyelesaikan tantangan untuk menulisnya. Sebetulnya kaidah komprod sudah saya praktekkan terus karena mumpung partner komprodnya ada d rumah. Tapi mau nulis di blog adaaa aja halangannya. Mau ngerapel karena trllu numpuk2 jadi lupaa..

Saya mau cerita aja tentang lanjutan dari membuat pagar besi kemarin. Pagi ini saya menghela nafas dulu dan minta waktu sebentar ke suami sebelum brgkt ke kantor untuk mendiskusikan pagar besi seperti apa yg mau akan kita buat. Tukang las hari ini mau datang skitar siang dan posisi suami sudah di kantor jadi harus ada kesepakatan dulu pagar seperti apa yg dimaksud dan tentunya saya minta tolong ke suami untuk ijin dulu ke mertua untuk pasang pagar di rumah beliau.

Dalam melakukan komunikasi kita harus yakin dulu dengan diri sendiri. Saya yakin kalau memang butuh pagar besi ini.. Ga boleh main2 krn budgetnya juga ga sedikit. Kontak.mata itu perlu agar lawan bicara juga yakin kalau kita sudah mantap dengan pilihan yang kita ambil.

Hasilnya..suami langsung acc dan memenuhi apa yang kita inginkan.

See.. Komunikasi itu menyamakan frame of refference-KU sama dengan frame of refference-MU.

Sekiaaan..

Wassalamualaikum wr.wb.